Tuesday, 20 October 2015

Peduli sesama / emPati Part 2

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgAr5CFaKB3aomr6LLWYRKbcv2FtUjqhCjSCfyUDjVirThNYsUBlBYYY8iQlTLIo2jyGVrRUeMc9OK7LCyE6a4SLDcpN2JXlXgxaGXykeZl0n6-1yYo71DkvK01IcVUiWNRw-k7upSBPCo/s1600/peduli.jpeg


wirJO SOEMarto... Menyalurkan rasa kepedulian kepada sesama memang tidak ada pakemnya. Jika Anda berempati dan berminat melakukan sesuatu untuk membantu orang lain, tidak perlu harus melakukan sesuatu yang ekstrem, misalnya keluar dari pekerjaan saat ini agar bisa full time menjadi pekerja sosial. Atau, Anda juga tidak harus menghimpun dana besar untuk bisa mendirikan sebuah yayasan sosial. Banyak jalan untuk berbagi. Kuncinya niat dan berbuat.
 

Tidak perlu muluk-muluk. Mulailah lakukan apa yang bisa Anda perbuat saat ini semampu Anda, di lingkungan terdekat. Misalnya, Anda bisa meluangkan waktu 5 menit untuk menyapa tukang kebun di rumah dan menanyakan kondisi keluarganya hari itu. Kalau ada yang perlu dibantu, bantulah. Bila memiliki potensi lebih besar, Anda bisa bergerak ke skala yang lebih luas, hingga ke lingkup nasional bahkan internasional. Dengan begitu, Anda  bisa terus mengasah empati sekaligus ikut berpartisipasi langsung dalam membantu sesama.  
 

Dan ketika Anda berbuat baik pada seseorang, janganlah memikirkan reaksi orang. Karena apa pun bentuknya, jika dilakukan dengan ikhlas, Anda akan memperoleh kenikmatan tersendiri. Dan sebenarnya tanpa harus berbuat banyak pun Anda tetap bisa membantu orang lain. ”Syaratnya, Anda merasa bahagia dulu”. Karena aura kebahagiaan akan terpancar dari diri Anda dan bisa menjadi penerang bagi orang lain.

Monday, 19 October 2015

kenaPa oranG Gila tidak Pernah merasa sakit


wirJO SOEMarto... Pernahkah anda berpikir, mengapa orang gila selalu sehat? Apa rahasianya? Beberapa kali kita berusaha memikirkan mengapa orang gila tidak pernah sakit? Tidak pernah kita melihat sekali pun ada orang gila kerokan di pinggir jalan, meminum obat, memakai koyok, atau bahkan sakit gigi sekalipun. Jawabannya adalah KARENA MEREKA TIDAK PERNAH STRESS !!!

Orang gila tidak pernah sakit karena mereka tidak pernah stress. Mereka tidak pernah berpikir macam-macam. Makanan apa pun mereka makan. Tidak seperti kita. Sudah ada ayam goreng, masih mencari sate kambing. Sudah ada soto kerbau, masih mencari pizza, hotdog, dllsb. Sedangkan orang gila tidak pernah minta makanan macam-macam. Makanan apapun asal namanya makanan tetap mereka makan. Bahkan nasi basi pun mereka makan.
Kedua, orang gila itu selalu qona'ah. Mereka itu triman. Menerima apa pun pemberian Allah kepadanya. Tidak pernah menuntut macam-macam. Tidak seperti kita. Sudah diberi sepeda, masih minta motor. Sudah punya motor, masih minta mobil. Rumah sudah bagus, masih saja selalu merasa ada yang kurang. Akhirnya beli ini beli itu, renovasi ini renovasi itu. Ujungnya hutang sana sini untuk kebutuhan tersebut. Nah, ketika hutangnya sudah menggunung, jatuh sakitlah dia.

Orang gila itu entah punya pakaian ataupun tidak, mereka santai saja. Kalau mengantuk, ya tidur saja. Mereka tidak butuh tikar, apalagi kasur atau springbed. Ada lho diantara kita yang tidak bisa tidur di atas tikar. Gara-garanya karena sudah terbiasa tidur di springbed. Tidur tanpa AC juga tidak bisa.

Orang gila jarang sakit juga adalah karena mereka selalu berbahagia. Nyatanya mereka tampak selalu tersenyum. Betul kan? Orang yang selalu tersenyum pasti hatinya bahagia dan tenteram. Everething is running well, bahasa kerennya. Semuanya berlalu dengan baik-baik saja. Tidak pernah ada masalah. Kalaupun ada masalah, dia menganggap itu sebagai hiburan yang menyenangkan. Makanya dia senantiasa tersenyum.

Nah, kalau anda semua ingin selalu sehat jadilah "orang gila". Maksudnya, hiduplah dengan qona'ah, narimo, tidak usah punya keinginan macam-macam dan selalulah tersenyum. Mudah-mudahan anda sehat selalu, walaupun selalu dan terus tersenyum.


Thursday, 15 October 2015

terkenanG nonton bioskoP


wirJO SOEMarto... Pada jaman dahulu (kayak cerita di komik ja), Kota Blitar mempunyai beberapa gedung bioskop. Yang aku ingat Dipayana (Dhoho), New Irama Theater, Cepaka Baru, terus yang lebih keren Kartika Candra Cineplex. Cobalah diingat kenangan yang ku tulis di bawah ini, nostagila-lah dengan keberadaan bioskop di Kota Blitar tempo doeloe :

1. Ingat kan sebelum bioskop main, sore harinya ada mobil keliling pake halo-halo (corong) keliling kota sambil sebarkan pamflet, ada kesenangan tersendiri saat berebut selebaran tersebut. Bangga jika kita mendapatkan selebaran dalam jumlah yang banyak :)

2. Jaman penulis dulu yang paling terkenal adalah Warkop DKI, dan yang menjadi penyedia pertunjukan Warkop DKI adalah Dipayana. Jadi ingat HANAN, si penjaga karcis yang sigap di depan pintu masuk. Biasanya kalau nggak punya duit cuma lihat-lihat gambar filmnya saja.

3. Dulu juga ada iklan, cuma 2 iklan yang ada, dari Scomptec dan Toko Pesona, hanya itu-itu saja iklannya.

4. Yang paling istimewa adalah Bioskop Irama dibanding gedung bioskop yang lain, karena di dalam gedung Bioskop Irama ada penjual es keliling (es bethet, khas Blitar) dan kursi di gedung ini bisa dilipat.

5. Bagi penggemar film India, bisa langsung menuju ke Cepaka Baru, kayaknya spesialis penayang film-film India, tapi bau pesing menyengat kalau di Cepaka.

6. Kartika Candra Cineplex sekarang, paling rame saat film perdana, Robocop. Tapi suara dari studio 1 masih terdengar di studio 2. Tapi saat itu kesenangan yang sangat teristimewa, karena munculnya era 2 bioskop dalam 1 gedung. Kursi selalu terisi penuh, full AC dan audio yang dahsyat.

7. Film-film yang menjadi box office selalu tayang sampai 2 minggu lebih. 

8. Sabtu-Minggu ada STUDENT SHOW/AMPERA SHOW. Lumayan ngirit, hanya dengan Rp 300,00 saja.

9. Malam Minggu ada Mighnight Show.

10. Setiap tahun baru ada pertunjukkan OLD&NEW, selalu ditunggu (2 film paling baru biasanya)

11. Yang terakhir ini nih, anak sekolah wajib nonton G30 S/PKI, uh seram !

Bioskop-bioskop di Kota Blitar akhirnya mati karena gempuran VCD bajakan yang saat itu tak terbendung dan kini semua telah tiada.

Nah, Sekarang saatnya anda bernostalgia sejenak dengan keberadaan bioskop di Kota Blitar yang pernah ada.

Tersenyumlah..



Peduli sesama / emPati Part 1




wirJO SOEMarto... Kepekaan sosial atau empati pada setiap orang bisa berbeda-beda. Empati biasanya tumbuh dari masa anak-anak, mengikuti pola asuh orang tua. Orang yang enggan berbagi akan tumbuh menjadi pribadi yang individualistis dan egosentris. Sementara mereka yang sejak kecil sering dilibatkan untuk memahami kesulitan orang lain, biasanya akan lebih peka dan mudah tergerak hatinya untuk menolong sesama.
 
Menurut spiritualis Anand Krishna,  salah satu penggerak seseorang untuk berbuat baik kepada sesama adalah rasa empati. Psikolog Alfred Adler mendefinisikan empati sebagai kemampuan untuk 'melihat dengan mata orang lain, mendengar dengan telinga orang lain, dan merasakan dengan hati orang lain'. Berbeda dengan simpati yang masih menggunakan 'kacamata' diri sendiri, empati merupakan takaran yang membedakan tingkat kepedulian dan keinginan menolong sesama pada setiap orang. Mereka yang memiliki empati biasanya lebih peka dalam merasakan penderitaan orang lain, sehingga timbul keinginan untuk menolong atau meringankan penderitaan sesama.


Tuesday, 13 October 2015

selamat tahun baru



wirJO SOEMarto... Satu tahun sudah berlalu dan entah berapa banyak dosa yang aku tumpuk atau entah berapa banyak pahala yang aku dapat..
tak bisa kuhitung-hitung karena hanya sang Khalik yang mengetahuinya..
hanya ada satu do’a yang aku selalu panjatkan padaNya..
"Ya Rabb, berilah hamba kesempatan dan bimbinganMu untuk bisa menjalani tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya dan berilah hamba tambahan usia yang barokah"
amien3..
selamat tahun baru islam 1437 H..

Saturday, 10 October 2015

selamat akhir Pekan


kuberharap pada-MU:
start yang baik untuk hari Minggu
tidak ada hambatan untuk hari Senin
tidak stress untuk hari Selasa
tidak kuatir untuk hari Rabu
tersenyum untuk hari Kamis
pesta untuk hari Jumat
kegembiraan untuk hari Sabtu
miliki akhir pekan yang terbaik..:)
(wirJO SOEMarto)


Thursday, 1 October 2015

memahami diri sendiri dan oranG lain


wirJO SOEMarto... Memahami orang lain  itu dimulai dengan memahami  diri sendiri. Ketika Anda berkomunikasi bertindak sebagai pemberi informasi, maka kesadaran diri sebelum sebuah pesan dikirimkan menjadi sangat penting. Kesadaran menjadi tolok ukur sebuah pesan dapat dikenali oleh  kawan bicara sebagai pesan yang bermanfaat dan tentunya mengandung umpan balik yang seimbang atau bahkan jauh lebih bermakna.

Tidak masalah seberapa penting sebuah informasi yang akan kita sampaikan. Bila pesan yang terkandung sesuatu yang sangat penting dan berhubungan dengan kualitas sebuah hubungan, bahwa keberhasilan berkomunikasi itu adalah dengan mengenali model dunia orang lain. Terjadinya “salah paham” atau miskomunikasi lebih disebabkan karena si pengirim pesan belum sepenuhnya memahami model dunia berpikir orang yang menerima pesan. Akibatnya yang terjadi adalah respon yang berbeda dari yang diinginkan.

Makna komunikasi (diukur dari) respons yang Anda dapatkan. Bayangkan bila yang menerima pesan sedang berada di dekat jembatan, dalam keadaan frustasi, galau dan tanpa basa basi atau “hantaran kata”, pilihan kata dan intonasi suara yang tidak congruen, kemudian Anda menginformasikan berita “duka” yang semakin membuatnya "tersiksa" secara psikis. Moga aja nggak sampai "loncat" ke bawah jembatan, kalau memang itu "terjadi", atau receiver dalam kondisi uncontrol of behavior, berita tersebut semakin mengarahkannya melakukan perbuatan “nekat”. Terus siapa dong provokatornya ??? Apapun alasannya Anda memiliki saham di dalamnya.   

Dalam perspektif lain, bukan APA yang Anda sampaikan, tapi BAGAIMANA Anda menyampaikannya. Setiap orang memiliki keunikan dalam karakter dirinya, menghargai nilai  keunikan dalam setiap pilihan prilaku menjadi sebuah tuntutan dalam sebuah relationship. Apakah itu di kantor antara atasan dan bawahan, suami dengan isteri, orang tua dengan anak, guru dengan siswa, muballigh dengan jamaahnya dan sebagainya.

Ketika sebuah pesan dimaknai secara berbeda, maka tugas selanjutnya dari si “pengirim pesan” adalah membantu secara maksimal agar pesan tersebut “dipahami” secara benar. Membantu disini bermakna bahwa si penerima pesan secara baik memahami maksud secara tersurat, tersirat dan tersuruk dari si pengirim pesan. Secara tersurat pesan itu bisa dilihat, tersirat bisa disimak dan terdengar makna dibalik pesan, tersuruk bisa diresapi, dihayati, dipahami.

Semoga setiap kita selalu introspeksi diri, terutama diri saya secara pribadi, Sehingga ikatan persaudaraan dalam tali silaturahmi yang kuat tetap terjalin. Baik kita saling mengenal atau bukan, media facebook  ini adalah sarana komunikasi yang bisa kita manfaatkan untuk saling berbagi, belajar dan kembali berbagi untuk sesama. Selamat menikmati indahnya nikmat Tuhan di hari ini, smoga berkelimpahan dalam rejeki dan kesuksesan.
Amiin …..